“Pendidikan sama pentingnya dengan air dan udara.”
Demikian ungkapan terkenal Taha Hussein yang hingga kini menggema di seluruh dunia Arab. Seorang anak laki-laki buta dari desa kecil di Mesir Hulu yang tumbuh menjadi salah satu intelektual paling berpengaruh di abad ke-20, ia dikenal luas dengan julukan “Dekan Sastra Arab” (عميد الأدب العربي) —sebuah gelar kehormatan yang mencerminkan otoritasnya dalam dunia sastra dan pemikiran Arab modern.
Taha Hussein adalah seorang novelis, kritikus sastra, akademisi, jurnalis, penerjemah, dan politisi. Ia adalah salah satu tokoh sentral Kebangkitan Arab (Nahda) dan gerakan modernis di dunia Arab. Sepanjang hidupnya, ia dinominasikan untuk Hadiah Nobel Sastra sebanyak dua puluh satu kali, menjadikannya, bersama Naguib Mahfouz, salah satu penulis Arab yang paling diakui secara internasional.
Biografi ini akan mengupas perjalanan hidup Taha Hussein—dari masa kecilnya yang penuh keterbatasan, pendidikan yang gigih, kontroversi yang mengguncang dunia Islam, hingga warisan abadinya sebagai pelopor pencerahan di tanah airnya.
Masa Kecil dan Awal Kebutaan
Kelahiran yang Sederhana
Taha Hussein lahir pada 14 November 1889 di desa Izbet el Kilo, dekat Maghaghah, Provinsi Minya, di Mesir Hulu (bagian selatan Mesir). Ia adalah anak ketujuh dari tiga belas bersaudara, lahir dari keluarga Muslim kelas menengah ke bawah yang sederhana. Ayahnya, Hussein Ali, adalah seorang pegawai kecil di sebuah perusahaan gula di Mesir Hulu.
Kebutaan yang Mengubah Segalanya
Pada usia dua tahun, Taha Hussein terserang infeksi mata (oftalmia). Karena penanganan yang tidak tepat oleh seorang dukun yang tidak kompeten, ia kehilangan penglihatannya secara permanen. Kebutaan ini menjadi titik balik yang menentukan seluruh hidupnya.
“Pada saat anak-anak seusianya bermimpi menjadi dokter, insinyur, atau orang kaya, ia justru bermimpi menjadi seorang penulis.”
Meskipun buta, semangatnya tidak pernah padam. Pada usia sembilan tahun, ia telah menghafal seluruh Al-Qur'an, sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan ketekunan dan kecerdasannya sejak dini. Pendidikan awalnya dimulai di kuttab (sekolah dasar tradisional) di desanya, di mana ia belajar membaca dan menulis dengan bantuan indra peraba dan pendengarannya.
Pendidikan di Al-Azhar dan Universitas Kairo
Kekecewaan di Al-Azhar
Pada tahun 1902, pada usia tiga belas tahun, Taha Hussein dikirim ke Universitas Al-Azhar di Kairo, pusat pendidikan tinggi Islam Sunni terkemuka di dunia. Awalnya, ia sangat antusias, menggambarkan pengetahuan sebagai “lautan tanpa batas” dan bertekad untuk “menenggelamkan dirinya” di dalamnya.
Namun, kekecewaan segera menyusul. Ia mendapati sistem pengajaran di Al-Azhar sangat kaku, hierarkis, dan lebih mengutamakan kepatuhan daripada kebebasan berpikir. Para ulama tidak menganggap sastra sebagai subjek yang serius. Untungnya, ia sempat mendengar kuliah dari Syekh Muhammad Abduh (1849–1905), seorang pembaru Islam besar, yang membuka wawasannya terhadap dunia pengetahuan yang sama sekali baru.
Langkah Berani: Pindah ke Universitas Sekuler
Pada tahun 1908, Taha Hussein mengambil keputusan yang sangat berani: ia meninggalkan Al-Azhar dan menjadi salah satu mahasiswa pertama yang mendaftar di Universitas Mesir (sekarang Universitas Kairo) yang baru didirikan—sebuah institusi sekuler yang sangat kontras dengan Al-Azhar yang religius.
Pada tahun 1914, ia meraih gelar Doktor (PhD) pertama dari Universitas Kairo, dengan disertasi tentang penyair dan filsuf buta abad ke-11, Abu al-Ala al-Ma'arri. Pilihan subjek ini sangat simbolis: seorang sarjana buta meneliti seorang penyair buta besar dari masa lalu.
Studi di Prancis dan Perjalanan Intelektual
Di Universitas Montpellier dan Sorbonne
Atas dorongan dari Universitas Kairo, Taha Hussein melanjutkan studi ke Prancis. Ia pertama kali belajar di Universitas Montpellier, dan kemudian di Sorbonne (Universitas Paris) yang legendaris. Di sinilah ia mengenal secara langsung budaya dan peradaban Barat pasca-Pencerahan.
Pada tahun 1917, Sorbonne menganugerahkan kepadanya gelar Doktor kedua, dengan disertasi tentang sejarawan Tunisia abad ke-14, Ibnu Khaldun, yang diakui sebagai salah satu pendiri sosiologi modern. Pada tahun 1919, ia juga meraih diploma dalam peradaban Romawi dari universitas yang sama.
Pertemuan dengan Suzanne: Cinta yang Menyinari Kegelapan
Selama di Montpellier, ia bertemu dengan seorang perempuan Prancis bernama Suzanne Bresseau. Suzanne dipekerjakan untuk membacakan buku-buku kepadanya yang tidak tersedia dalam huruf Braille. Dari situlah tumbuh hubungan yang mendalam. Mereka menikah pada tahun 1917, dan Suzanne menjadi pendamping setia, asisten, dan penerjemah karya-karyanya sepanjang hidup. Mereka dikaruniai dua orang anak, Amina dan Mu’nis.
Kembali ke Mesir dan Karier Akademik
Taha Hussein kembali ke Mesir pada tahun 1919 dan diangkat sebagai profesor sastra Arab di Universitas Kairo. Ia juga menjadi Dekan Fakultas Sastra pada tahun 1928, 1930–1932, dan 1936–1939. Namun, kariernya di universitas sering kali diwarnai badai, karena pandangannya yang berani terus menerus memicu kemarahan para konservatif agama.
Kontroversi “Fi al-Shi‘r al-Jahili” dan Perjuangan Ide
Sebuah Buku yang Mengguncang Dunia Arab
Pada tahun 1926, Taha Hussein menerbitkan buku yang paling kontroversial dalam hidupnya, “Fi al-Shi‘r al-Jahili” (Tentang Puisi Pra-Islam). Dalam buku ini, ia berpendapat bahwa:
Sebagian besar puisi yang dianggap berasal dari zaman pra-Islam sebenarnya adalah pemalsuan dari masa Islam berikutnya, yang dibuat untuk alasan kebanggaan suku dan persaingan antar kabilah.
Ia juga berani meragukan keotentikan beberapa bagian dari Al-Qur'an sebagai sumber sejarah yang absolut.
Dituduh Murtad dan Diadili
Buku ini memicu badai kontroversi yang melanda tidak hanya Mesir, tetapi hampir seluruh dunia Muslim. Para ulama dan politisi konservatif menuduhnya murtad (apostasy) dan mengajukannya ke pengadilan. Ia dipecat dari jabatannya di universitas dan buku tersebut dilarang beredar untuk sementara waktu.
Namun, Taha Hussein tidak mundur. Ia merevisi bukunya dengan beberapa perubahan kecil dan menerbitkannya kembali dengan judul “Fi al-Adab al-Jahili” (Tentang Sastra Pra-Islam) pada tahun 1927. Di pengadilan, ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan murtad.
Karier sebagai Menteri Pendidikan dan Reformasi
Visi untuk Mesir Modern
Pada tahun 1938, Taha Hussein menerbitkan buku penting lainnya, “Mustaqbal al-Thaqafah fi Misr” (Masa Depan Kebudayaan di Mesir). Dalam buku ini, ia menyatakan keyakinannya bahwa Mesir secara peradaban termasuk dalam lingkaran peradaban Mediterania yang sama dengan Yunani, Italia, dan Prancis, bukan bagian dari Timur Arab. Ia dengan tegas menganjurkan adopsi nilai-nilai Eropa modern, termasuk pendidikan sekuler dan demokrasi liberal.
Menteri Pendidikan yang Merevolusi Sekolah
Antara 12 Januari 1950 hingga 27 Januari 1952, Taha Hussein menjabat sebagai Menteri Pendidikan Mesir dalam pemerintahan terakhir partai Wafd sebelum tergulingnya monarki. Dalam masa jabatannya yang singkat namun bersejarah ini, ia memperluas pendidikan negara secara besar-besaran ke seluruh pelosok Mesir dan menghapuskan biaya sekolah, sehingga pendidikan menjadi gratis bagi semua anak. Kutipannya yang terkenal, “Pendidikan sama pentingnya dengan air dan udara,” menjadi semboyan bagi generasi-generasi berikutnya.
Karya-Karya Utama
Taha Hussein adalah seorang penulis yang sangat produktif, dengan puluhan buku yang meliputi berbagai genre. Berikut adalah karya-karyanya yang paling penting:
Pemikiran dan Filosofi
Rasionalisme dan Warisan Yunani
Taha Hussein adalah seorang rasionalis sejati. Ia sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yunani klasik, terutama Socrates, Plato, dan Euripides. Baginya, akal budi adalah alat utama untuk mencapai kebenaran, dan ia tidak segan-segan menggunakan metode kritik modern—yang ia pelajari di Prancis—untuk meneliti warisan sastra dan sejarah Arab.
Pencerahan dan Kritik terhadap Otoritarianisme
Ia melihat Pencerahan Eropa sebagai model yang harus diikuti oleh dunia Arab, bukan dalam arti meniru secara membabi buta, tetapi dalam hal berani bertanya dan tidak menerima dogma secara pasif. Ia menolak segala bentuk otoritarianisme, baik dari negara maupun dari institusi agama.
Identitas Mesir: Mediterania, Bukan Oriental
Salah satu pandangannya yang paling kontroversial adalah bahwa Mesir adalah bagian dari Eropa, bukan dari Timur Arab. Ia berpendapat bahwa secara geografis dan historis, Mesir memiliki ikatan yang lebih kuat dengan peradaban Mediterania (Yunani, Romawi, Prancis) daripada dengan Jazirah Arab. Pandangan ini membuatnya dituduh sebagai “pengkhianat” oleh para nasionalis Arab, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya.
Warisan dan Pengaruh
Pengakuan Dunia
Taha Hussein menerima berbagai penghargaan tertinggi, termasuk Ordo Nil (Order of the Nile), penghargaan sipil tertinggi di Mesir. Ia juga menjadi anggota dan kemudian Presiden Akademi Bahasa Arab Kairo dari tahun 1940 hingga wafatnya pada tahun 1973.
Museum Taha Hussein
Setelah wafatnya, rumahnya di Giza diubah menjadi Museum Taha Hussein pada tahun 1997. Museum ini menyimpan lebih dari 3.000 buku koleksi pribadinya serta berbagai artefak yang mendokumentasikan kehidupan dan kariernya.
Helen Keller dan Taha Hussein: Persahabatan Dua Pejuang Kebutaan
Pada tahun 1952, Helen Keller, tokoh tuna netra dan tuna rungu terkenal dari Amerika Serikat, mengunjungi Mesir dan bertemu dengan Taha Hussein. Dalam memoarnya, ia menulis:
“Selama bertahun-tahun saya telah membaca tentang Taha Hussein Pasha, dan saya tidak dapat mengungkapkan kegembiraan saya suatu hari ketika ia mengunjungi saya di Hotel Semiramis... Saya mendapat keistimewaan untuk menyentuh wajahnya, betapa tampan, terpelajar, dan penuh cahaya batin wajah itu! Kelembutannya yang responsif menghangatkan hati saya, dan saya merasa seolah-olah saya telah mengenalnya selamanya.”
Kritik dan Polemik
Meskipun sangat dihormati, Taha Hussein juga tidak luput dari kritik. Kaum konservatif agama terus menyerangnya sebagai “perusak akidah”. Kaum nasionalis Arab mengkritik pandangannya yang “pro-Barat”. Bahkan, di kalangan intelektual muda, ia dituduh tidak cukup mendukung “seni yang berkomitmen” (seni untuk perjuangan sosial).
Cahaya Abadi Sang Dekan Sastra Arab
“Saya adalah salah satu orang yang paling menjauhi ilusi, dan paling menolak gambaran-gambaran palsu yang tidak menggambarkan apa pun.” (Taha Hussein, Masa Depan Kebudayaan di Mesir)
Taha Hussein meninggal dunia pada 28 Oktober 1973 di Kairo pada usia 83 tahun. Hingga napas terakhirnya, ia tetap konsisten sebagai seorang pejuang pencerahan, rasionalisme, dan kebebasan berpikir.
Lebih dari sekadar seorang penulis, ia adalah sebuah gerakan intelektual. Ia membawa metode kritik modern ke dalam studi sastra dan sejarah Arab, mereformasi sistem pendidikan Mesir secara fundamental, dan membuka jalan bagi generasi-generasi berikutnya—dari Naguib Mahfouz hingga Nawal El Saadawi—untuk berani berbicara kebenaran tanpa rasa takut.
Ia mungkin buta secara fisik, tetapi ia melihat lebih jauh dan lebih jelas daripada jutaan orang yang memiliki mata. Seperti yang ditulis Helen Keller, wajahnya “penuh dengan cahaya batin.” Itulah warisan abadi Taha Hussein: cahaya yang terus menerangi jalan bagi mereka yang haus akan pengetahuan, kebebasan, dan martabat.