“Pendidikan sama pentingnya dengan air dan udara.”

Demikian ungkapan terkenal Taha Hussein yang hingga kini menggema di seluruh dunia Arab. Seorang anak laki-laki buta dari desa kecil di Mesir Hulu yang tumbuh menjadi salah satu intelektual paling berpengaruh di abad ke-20, ia dikenal luas dengan julukan “Dekan Sastra Arab” (عميد الأدب العربي) —sebuah gelar kehormatan yang mencerminkan otoritasnya dalam dunia sastra dan pemikiran Arab modern.

Taha Hussein adalah seorang novelis, kritikus sastra, akademisi, jurnalis, penerjemah, dan politisi. Ia adalah salah satu tokoh sentral Kebangkitan Arab (Nahda) dan gerakan modernis di dunia Arab. Sepanjang hidupnya, ia dinominasikan untuk Hadiah Nobel Sastra sebanyak dua puluh satu kali, menjadikannya, bersama Naguib Mahfouz, salah satu penulis Arab yang paling diakui secara internasional.

Biografi ini akan mengupas perjalanan hidup Taha Hussein—dari masa kecilnya yang penuh keterbatasan, pendidikan yang gigih, kontroversi yang mengguncang dunia Islam, hingga warisan abadinya sebagai pelopor pencerahan di tanah airnya.

Masa Kecil dan Awal Kebutaan

Kelahiran yang Sederhana

Taha Hussein lahir pada 14 November 1889 di desa Izbet el Kilo, dekat Maghaghah, Provinsi Minya, di Mesir Hulu (bagian selatan Mesir). Ia adalah anak ketujuh dari tiga belas bersaudara, lahir dari keluarga Muslim kelas menengah ke bawah yang sederhana. Ayahnya, Hussein Ali, adalah seorang pegawai kecil di sebuah perusahaan gula di Mesir Hulu.

Kebutaan yang Mengubah Segalanya

Pada usia dua tahun, Taha Hussein terserang infeksi mata (oftalmia). Karena penanganan yang tidak tepat oleh seorang dukun yang tidak kompeten, ia kehilangan penglihatannya secara permanen. Kebutaan ini menjadi titik balik yang menentukan seluruh hidupnya.

“Pada saat anak-anak seusianya bermimpi menjadi dokter, insinyur, atau orang kaya, ia justru bermimpi menjadi seorang penulis.”

Meskipun buta, semangatnya tidak pernah padam. Pada usia sembilan tahun, ia telah menghafal seluruh Al-Qur'an, sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan ketekunan dan kecerdasannya sejak dini. Pendidikan awalnya dimulai di kuttab (sekolah dasar tradisional) di desanya, di mana ia belajar membaca dan menulis dengan bantuan indra peraba dan pendengarannya.

Pendidikan di Al-Azhar dan Universitas Kairo

Kekecewaan di Al-Azhar

Pada tahun 1902, pada usia tiga belas tahun, Taha Hussein dikirim ke Universitas Al-Azhar di Kairo, pusat pendidikan tinggi Islam Sunni terkemuka di dunia. Awalnya, ia sangat antusias, menggambarkan pengetahuan sebagai “lautan tanpa batas” dan bertekad untuk “menenggelamkan dirinya” di dalamnya.

Namun, kekecewaan segera menyusul. Ia mendapati sistem pengajaran di Al-Azhar sangat kaku, hierarkis, dan lebih mengutamakan kepatuhan daripada kebebasan berpikir. Para ulama tidak menganggap sastra sebagai subjek yang serius. Untungnya, ia sempat mendengar kuliah dari Syekh Muhammad Abduh (1849–1905), seorang pembaru Islam besar, yang membuka wawasannya terhadap dunia pengetahuan yang sama sekali baru.

Langkah Berani: Pindah ke Universitas Sekuler

Pada tahun 1908, Taha Hussein mengambil keputusan yang sangat berani: ia meninggalkan Al-Azhar dan menjadi salah satu mahasiswa pertama yang mendaftar di Universitas Mesir (sekarang Universitas Kairo) yang baru didirikan—sebuah institusi sekuler yang sangat kontras dengan Al-Azhar yang religius.

Pada tahun 1914, ia meraih gelar Doktor (PhD) pertama dari Universitas Kairo, dengan disertasi tentang penyair dan filsuf buta abad ke-11, Abu al-Ala al-Ma'arri. Pilihan subjek ini sangat simbolis: seorang sarjana buta meneliti seorang penyair buta besar dari masa lalu.

Studi di Prancis dan Perjalanan Intelektual

Di Universitas Montpellier dan Sorbonne

Atas dorongan dari Universitas Kairo, Taha Hussein melanjutkan studi ke Prancis. Ia pertama kali belajar di Universitas Montpellier, dan kemudian di Sorbonne (Universitas Paris) yang legendaris. Di sinilah ia mengenal secara langsung budaya dan peradaban Barat pasca-Pencerahan.

Pada tahun 1917, Sorbonne menganugerahkan kepadanya gelar Doktor kedua, dengan disertasi tentang sejarawan Tunisia abad ke-14, Ibnu Khaldun, yang diakui sebagai salah satu pendiri sosiologi modern. Pada tahun 1919, ia juga meraih diploma dalam peradaban Romawi dari universitas yang sama.

Pertemuan dengan Suzanne: Cinta yang Menyinari Kegelapan

Selama di Montpellier, ia bertemu dengan seorang perempuan Prancis bernama Suzanne Bresseau. Suzanne dipekerjakan untuk membacakan buku-buku kepadanya yang tidak tersedia dalam huruf Braille. Dari situlah tumbuh hubungan yang mendalam. Mereka menikah pada tahun 1917, dan Suzanne menjadi pendamping setia, asisten, dan penerjemah karya-karyanya sepanjang hidup. Mereka dikaruniai dua orang anak, Amina dan Mu’nis.

Kembali ke Mesir dan Karier Akademik

Taha Hussein kembali ke Mesir pada tahun 1919 dan diangkat sebagai profesor sastra Arab di Universitas Kairo. Ia juga menjadi Dekan Fakultas Sastra pada tahun 1928, 1930–1932, dan 1936–1939. Namun, kariernya di universitas sering kali diwarnai badai, karena pandangannya yang berani terus menerus memicu kemarahan para konservatif agama.

Kontroversi “Fi al-Shi‘r al-Jahili” dan Perjuangan Ide

Sebuah Buku yang Mengguncang Dunia Arab

Pada tahun 1926, Taha Hussein menerbitkan buku yang paling kontroversial dalam hidupnya, “Fi al-Shi‘r al-Jahili” (Tentang Puisi Pra-Islam). Dalam buku ini, ia berpendapat bahwa:

Sebagian besar puisi yang dianggap berasal dari zaman pra-Islam sebenarnya adalah pemalsuan dari masa Islam berikutnya, yang dibuat untuk alasan kebanggaan suku dan persaingan antar kabilah.

Ia juga berani meragukan keotentikan beberapa bagian dari Al-Qur'an sebagai sumber sejarah yang absolut.

Dituduh Murtad dan Diadili

Buku ini memicu badai kontroversi yang melanda tidak hanya Mesir, tetapi hampir seluruh dunia Muslim. Para ulama dan politisi konservatif menuduhnya murtad (apostasy) dan mengajukannya ke pengadilan. Ia dipecat dari jabatannya di universitas dan buku tersebut dilarang beredar untuk sementara waktu.

Namun, Taha Hussein tidak mundur. Ia merevisi bukunya dengan beberapa perubahan kecil dan menerbitkannya kembali dengan judul “Fi al-Adab al-Jahili” (Tentang Sastra Pra-Islam) pada tahun 1927. Di pengadilan, ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan murtad.

Karier sebagai Menteri Pendidikan dan Reformasi

Visi untuk Mesir Modern

Pada tahun 1938, Taha Hussein menerbitkan buku penting lainnya, “Mustaqbal al-Thaqafah fi Misr” (Masa Depan Kebudayaan di Mesir). Dalam buku ini, ia menyatakan keyakinannya bahwa Mesir secara peradaban termasuk dalam lingkaran peradaban Mediterania yang sama dengan Yunani, Italia, dan Prancis, bukan bagian dari Timur Arab. Ia dengan tegas menganjurkan adopsi nilai-nilai Eropa modern, termasuk pendidikan sekuler dan demokrasi liberal.

Menteri Pendidikan yang Merevolusi Sekolah

Antara 12 Januari 1950 hingga 27 Januari 1952, Taha Hussein menjabat sebagai Menteri Pendidikan Mesir dalam pemerintahan terakhir partai Wafd sebelum tergulingnya monarki. Dalam masa jabatannya yang singkat namun bersejarah ini, ia memperluas pendidikan negara secara besar-besaran ke seluruh pelosok Mesir dan menghapuskan biaya sekolah, sehingga pendidikan menjadi gratis bagi semua anak. Kutipannya yang terkenal, “Pendidikan sama pentingnya dengan air dan udara,” menjadi semboyan bagi generasi-generasi berikutnya.

Karya-Karya Utama

Taha Hussein adalah seorang penulis yang sangat produktif, dengan puluhan buku yang meliputi berbagai genre. Berikut adalah karya-karyanya yang paling penting:

TahunJudulKeterangan
1926–1967Al-Ayyam (الأيام)Otobiografi novelistik dalam tiga volume, mengisahkan perjalanannya dari seorang anak buta di pedesaan hingga meraih gelar doktor di Sorbonne.
1926Fi al-Shi‘r al-Jahili (في الشعر الجاهلي)Buku kontroversial tentang puisi pra-Islam yang menyebabkan ia diadili karena tuduhan murtad.
1934Du‘a al-Karawan (دعاء الكروان)Novel yang mengangkat tema kehormatan perempuan dan balas dendam di pedesaan Mesir. Diadaptasi menjadi film terkenal The Nightingale's Prayer (1959).
1938Mustaqbal al-Thaqafah fi Misr (مستقبل الثقافة في مصر)Buku visi tentang masa depan kebudayaan Mesir, menganjurkan identitas Mediterania dan pendidikan modern.
1936Al-Fitnah al-Kubra (الفتنة الكبرى)Karya sejarah tentang fitnah besar pertama dalam Islam (pembunuhan Utsman dan Ali).

Pemikiran dan Filosofi

Rasionalisme dan Warisan Yunani

Taha Hussein adalah seorang rasionalis sejati. Ia sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yunani klasik, terutama Socrates, Plato, dan Euripides. Baginya, akal budi adalah alat utama untuk mencapai kebenaran, dan ia tidak segan-segan menggunakan metode kritik modern—yang ia pelajari di Prancis—untuk meneliti warisan sastra dan sejarah Arab.

Pencerahan dan Kritik terhadap Otoritarianisme

Ia melihat Pencerahan Eropa sebagai model yang harus diikuti oleh dunia Arab, bukan dalam arti meniru secara membabi buta, tetapi dalam hal berani bertanya dan tidak menerima dogma secara pasif. Ia menolak segala bentuk otoritarianisme, baik dari negara maupun dari institusi agama.

Identitas Mesir: Mediterania, Bukan Oriental

Salah satu pandangannya yang paling kontroversial adalah bahwa Mesir adalah bagian dari Eropa, bukan dari Timur Arab. Ia berpendapat bahwa secara geografis dan historis, Mesir memiliki ikatan yang lebih kuat dengan peradaban Mediterania (Yunani, Romawi, Prancis) daripada dengan Jazirah Arab. Pandangan ini membuatnya dituduh sebagai “pengkhianat” oleh para nasionalis Arab, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya.

Warisan dan Pengaruh

Pengakuan Dunia

Taha Hussein menerima berbagai penghargaan tertinggi, termasuk Ordo Nil (Order of the Nile), penghargaan sipil tertinggi di Mesir. Ia juga menjadi anggota dan kemudian Presiden Akademi Bahasa Arab Kairo dari tahun 1940 hingga wafatnya pada tahun 1973.

Museum Taha Hussein

Setelah wafatnya, rumahnya di Giza diubah menjadi Museum Taha Hussein pada tahun 1997. Museum ini menyimpan lebih dari 3.000 buku koleksi pribadinya serta berbagai artefak yang mendokumentasikan kehidupan dan kariernya.

Helen Keller dan Taha Hussein: Persahabatan Dua Pejuang Kebutaan

Pada tahun 1952, Helen Keller, tokoh tuna netra dan tuna rungu terkenal dari Amerika Serikat, mengunjungi Mesir dan bertemu dengan Taha Hussein. Dalam memoarnya, ia menulis:

“Selama bertahun-tahun saya telah membaca tentang Taha Hussein Pasha, dan saya tidak dapat mengungkapkan kegembiraan saya suatu hari ketika ia mengunjungi saya di Hotel Semiramis... Saya mendapat keistimewaan untuk menyentuh wajahnya, betapa tampan, terpelajar, dan penuh cahaya batin wajah itu! Kelembutannya yang responsif menghangatkan hati saya, dan saya merasa seolah-olah saya telah mengenalnya selamanya.”

Kritik dan Polemik

Meskipun sangat dihormati, Taha Hussein juga tidak luput dari kritik. Kaum konservatif agama terus menyerangnya sebagai “perusak akidah”. Kaum nasionalis Arab mengkritik pandangannya yang “pro-Barat”. Bahkan, di kalangan intelektual muda, ia dituduh tidak cukup mendukung “seni yang berkomitmen” (seni untuk perjuangan sosial).

Cahaya Abadi Sang Dekan Sastra Arab

“Saya adalah salah satu orang yang paling menjauhi ilusi, dan paling menolak gambaran-gambaran palsu yang tidak menggambarkan apa pun.” (Taha Hussein, Masa Depan Kebudayaan di Mesir)

Taha Hussein meninggal dunia pada 28 Oktober 1973 di Kairo pada usia 83 tahun. Hingga napas terakhirnya, ia tetap konsisten sebagai seorang pejuang pencerahan, rasionalisme, dan kebebasan berpikir.

Lebih dari sekadar seorang penulis, ia adalah sebuah gerakan intelektual. Ia membawa metode kritik modern ke dalam studi sastra dan sejarah Arab, mereformasi sistem pendidikan Mesir secara fundamental, dan membuka jalan bagi generasi-generasi berikutnya—dari Naguib Mahfouz hingga Nawal El Saadawi—untuk berani berbicara kebenaran tanpa rasa takut.

Ia mungkin buta secara fisik, tetapi ia melihat lebih jauh dan lebih jelas daripada jutaan orang yang memiliki mata. Seperti yang ditulis Helen Keller, wajahnya “penuh dengan cahaya batin.” Itulah warisan abadi Taha Hussein: cahaya yang terus menerangi jalan bagi mereka yang haus akan pengetahuan, kebebasan, dan martabat.

Download Novel Thaha Husein

Simone de Beauvoir-nya Dunia Arab

“Mereka bilang, ‘Kamu perempuan kurang ajar dan berbahaya.’ Saya mengatakan kebenaran. Dan kebenaran itu kurang ajar dan berbahaya.”

Demikian tulis Nawal El Saadawi dalam salah satu pernyataannya yang paling dikenang, sebagaimana dilaporkan media Mesir. Kata-kata ini merangkum seluruh perjalanan hidup seorang perempuan yang mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan di tengah masyarakat yang menolak untuk mendengarnya. Seorang dokter, psikiater, novelis, dan aktivis feminis yang selama puluhan tahun membagi kisah serta perspektifnya melalui novel, esai, otobiografi, dan gelar wicara yang dihadiri banyak orang.

Dikenal luas sebagai “Simone de Beauvoir dari Dunia Arab” dan “perempuan paling radikal di Mesir,” Nawal El Saadawi lahir pada 27 Oktober 1931 di desa Kafr Tahla, Mesir, dan meninggal dunia pada 21 Maret 2021 di Kairo pada usia 89 tahun. Kejujurannya yang brutal dan dedikasinya yang tak tergoyahkan untuk memperbaiki hak-hak politik dan seksual perempuan telah menginspirasi berbagai generasi di seluruh dunia.

Kelahiran yang Tidak Diharapkan

Nawal El Saadawi dilahirkan sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara. Keluarganya tinggal di sebuah desa kecil bernama Kafr Tahla, terletak di tepi Sungai Nil, sebuah tempat yang ia gambarkan memiliki banyak ruang untuk berjalan dan berpikir secara kreatif di samping pepohonan hijau yang indah. Ayahnya, Sayed, adalah seorang pejabat pemerintah di Kementerian Pendidikan yang berkampanye melawan pendudukan Inggris di Mesir dan Sudan, yang menyebabkan ia diasingkan ke kota kecil di Delta Nil dan tidak dipromosikan selama sepuluh tahun. Ibunya, Zainab, berasal dari latar belakang keluarga kaya.

Sejak usia dini, Nawal menyadari bahwa anak perempuan kurang dihargai dibandingkan anak laki-laki. Suatu ketika, neneknya berkata kepadanya, “Satu anak laki-laki berharga setidaknya 15 perempuan… Perempuan adalah hama.” Nawal marah mendengar pernyataan itu. Dia melihat ada yang salah dan dia bersuara. “Nawal tidak bisa memalingkan dirinya,” kata seorang teman dan penerjemahnya, Omnia Amin.

Upaya Pernikahan Dini dan Perlawanan Pertama

Ketika Nawal berusia sepuluh tahun, keluarganya berusaha menikahkannya. Namun, dengan keberanian yang luar biasa, ia menolak mentah-mentah lamaran tersebut. Sang ibu, yang memiliki pengaruh besar dalam hidupnya, membelanya. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik awal yang membentuk karakter Nawal sebagai seorang pejuang yang tidak akan pernah tunduk pada tekanan budaya atau tradisi yang merugikan perempuan.

Luka yang Tak Pernah Sembuh: Pengalaman Sunat Perempuan

Pada usia enam tahun, Nawal mengalami peristiwa yang akan membentuk seluruh perjuangannya di masa depan: ia menjadi korban sunat perempuan atau Female Genital Mutilation (FGM). Dalam bukunya The Hidden Face of Eve (diterbitkan di Indonesia dengan judul Perempuan dalam Budaya Patriarki), ia menceritakan pengalamannya menjalani prosedur yang menyakitkan itu di lantai kamar mandi, sementara ibunya berdiri di sampingnya.

Dalam otobiografinya, ia menulis bahwa luka mendalam yang tertinggal di dalam tubuhnya tidak pernah sembuh. Pengalaman traumatis ini menjadi fondasi perlawanannya sepanjang hayat terhadap praktik FGM, yang ia pandang sebagai alat untuk menindas dan mengontrol tubuh perempuan.

Dukungan Ayah yang Progresif

Meskipun menghadapi berbagai ketidakadilan sebagai seorang anak perempuan, Nawal memiliki keberuntungan besar: ayahnya adalah seorang yang progresif dan sangat mendukung pendidikannya. Sang ayah mendorongnya untuk belajar membaca, mempelajari bahasa Arab, dan—yang terpenting—berpikir dengan nalarnya sendiri. Ia mengajarkan Nawal untuk membaca Al-Qur’an tetapi tetap menggunakan akal sehatnya. Pada usia 13 tahun, Nawal sudah menulis novel pertamanya, menandai awal dari perjalanan panjangnya sebagai seorang penulis.

Pendidikan dan Karier Awal sebagai Dokter

Pada tahun 1951, Nawal El Saadawi memasuki Fakultas Kedokteran dan Bedah Universitas Kairo—sebuah pencapaian luar biasa di saat sedikit perempuan yang melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Ia lulus dengan gelar M.D. pada tahun 1955. Setelah lulus, ia bekerja sebagai dokter di kota kelahirannya dan di Universitas Kairo, di samping mengajar dan melakukan praktik di Rumah Sakit Qasr Ainy, Kairo, hingga tahun 1966.

Pada tahun 1966, ia meraih gelar Magister Kesehatan Masyarakat (M.P.H.) dari Universitas Columbia di New York, sebuah institusi bergengsi yang semakin memperluas wawasannya tentang isu-isu kesehatan global. Pada periode 1972–1974, ia melakukan penelitian psikiatri di Universitas Ain Shams di Kairo.

Kariernya di pemerintahan Mesir terus menanjak. Pada tahun 1966, ia diangkat menjadi Direktur Jenderal Departemen Pendidikan Kesehatan di Kementerian Kesehatan Masyarakat Mesir. Pada tahun 1968, ia mendirikan majalah Health, yang menjadi wadah bagi edukasi kesehatan masyarakat.

Saat bekerja sebagai dokter, terutama di daerah pedesaan, Nawal mengamati dan mencatat berbagai masalah fisik dan psikologis yang dialami oleh para pasien perempuannya. Ia menghubungkan penderitaan mereka dengan praktik budaya patriarki yang mengakar dalam masyarakat. Banyak dari pengamatan ini menjadi fondasi bagi karya nonfiksi pertamanya yang kontroversial.

Kemunculan sebagai Penulis Feminis

Pada tahun 1972, Nawal El Saadawi menerbitkan buku nonfiksi berjudul Women and Sex (Al-Marʾah wa al-jins). Buku ini berisikan narasi perjuangan melawan eksploitasi tubuh perempuan, termasuk penentangannya terhadap sunat perempuan dan berbagai bentuk penindasan seksual lainnya. Ia dengan tegas menyatakan bahwa khitan terhadap perempuan merupakan tradisi turun-temurun, bukan berasal dari ajaran Islam.

Buku tersebut mengguncang otoritas politik dan agama di Mesir. Kelompok agamis menggambarkan El-Saadawi sebagai “kekuatan penghancur” dalam wacana sosial dan budaya Mesir modern. Akibatnya, pemerintah memecatnya dari jabatannya sebagai Direktur Kesehatan Publik di Kementerian Kesehatan Mesir. Setahun berikutnya, majalah Health yang ia dirikan juga dibredel. Buku Women and Sex dilarang beredar di Mesir selama hampir dua dekade.

Memoar Seorang Dokter Perempuan: Kisah Perjuangan di Dunia yang Didominasi Laki-laki

Pada tahun 1958, ia menerbitkan novel klasik berjudul Memoirs of a Woman Doctor. Novel ini mengisahkan seorang gadis Mesir yang bercita-cita menjadi dokter, namun harus menghadapi rintangan besar karena kehidupan sosial di Mesir menyulitkan seorang perempuan untuk berkarier. Tokoh utama dalam novel tersebut menjadi satu-satunya mahasiswa kedokteran perempuan di kampusnya, dan perjuangannya melawan dominasi laki-laki di sekolah kedokteran menjadi cerminan dari perjuangan nyata Nawal sendiri.

Perempuan di Titik Nol: Mahakarya yang Menggetarkan Dunia

Pada tahun 1975, Nawal El Saadawi menerbitkan novelnya yang paling terkenal di dunia, Woman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol). Novel ini diangkat dari kisah nyata seorang perempuan bernama Firdaus yang ia temui saat bekerja sebagai dokter di penjara perempuan. Firdaus, seorang pelacur yang dihukum mati karena membunuh germonya, menjadi simbol dari semua perempuan yang tertindas oleh sistem patriarki yang kejam.

Melalui sudut pandang Firdaus, Nawal menggambarkan dengan sangat gamblang kebobrokan sistem pemerintahan, ketimpangan sosial, dan kekerasan struktural yang dialami oleh perempuan di Mesir dan dunia Arab. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di seluruh dunia dan menjadi salah satu karya sastra feminis paling berpengaruh sepanjang masa.

Aktivisme, Organisasi, dan Perjuangan Tanpa Henti

Mendirikan Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab

Pada tahun 1982, Nawal El Saadawi mendirikan Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab (Arab Women’s Solidarity Association/AWSA) dan menjabat sebagai presidennya. Organisasi ini menjadi wadah bagi para perempuan Arab untuk bersatu melawan penindasan patriarki dan memperjuangkan hak-hak mereka. Ia juga menjadi salah satu pendiri Asosiasi Arab untuk Hak Asasi Manusia, yang memperluas perjuangannya ke ranah hak asasi manusia secara lebih luas.

Pada tahun 1981, ia mendirikan majalah feminis Al-Moawgaha yang berarti “Konfrontasi,” sebuah nama yang secara tegas mencerminkan sikapnya yang tidak pernah kompromi terhadap ketidakadilan. Namun, pada tahun 1991, pemerintah Mesir di bawah Hosni Mubarak menutup paksa asosiasi tersebut dan mengalihkan dananya ke Asosiasi Perempuan Islam.

Dipenjara oleh Sadat: Menulis di Atas Tisu Toilet dengan Pensil Alis

Pada bulan September 1981, di masa pemerintahan Presiden Anwar Sadat, Nawal El Saadawi ditangkap dengan tuduhan sebagai pembangkang politik. Ia dipenjara selama tiga bulan. Namun, penjara tidak menghentikan semangatnya untuk menulis.

Selama di balik jeruji besi, ia menulis memoarnya di atas gulungan kertas tisu toilet, menggunakan pensil alis yang diselundupkan kepadanya oleh seorang pekerja seks yang juga dipenjara—sebuah adegan yang begitu simbolis tentang bagaimana seorang pejuang kebenaran dapat berkarya dalam kondisi paling sulit sekalipun. Hasilnya adalah buku Memoirs from the Women’s Prison (Memoar dari Penjara Perempuan), yang menjadi saksi bisu atas ketabahannya menghadapi tirani. Ia dibebaskan sebulan setelah Presiden Sadat tewas terbunuh pada Oktober 1981.

Ancaman Pembunuhan dan Pengasingan ke Amerika Serikat

Setelah dibebaskan, perjuangan Nawal tidak menjadi lebih mudah. Ia terus menerima ancaman pembunuhan dari para pengkhotbah Islam garis keras. Namanya masuk dalam daftar orang-orang yang diincar nyawanya, bersama dengan penulis peraih Nobel Naguib Mahfouz yang selamat dari upaya pembunuhan pada tahun 1994.

Pada tahun 1993, setelah ancaman kematian yang terus-menerus, Nawal memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat. Ia bekerja sebagai penulis di departemen bahasa Asia dan Afrika di Universitas Duke, North Carolina, selama kurang lebih tiga tahun. Setelah itu, ia kembali ke Mesir dan terus melanjutkan perjuangannya.

Mencalonkan Diri sebagai Presiden Mesir

Pada tahun 2005, Nawal El Saadawi menunjukkan keberaniannya yang luar biasa dengan mencalonkan diri sebagai presiden Mesir. Namun, ia membatalkan pencalonannya setelah menuduh pasukan keamanan tidak mengizinkannya mengadakan demonstrasi atau kampanye politik. Meskipun tidak berhasil, langkah ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga berusaha untuk secara langsung terlibat dalam proses politik.

Pada tahun 2011, di usianya yang ke-80 tahun, ia masih aktif mengambil peran dalam pemberontakan massal melawan korupsi rezim Hosni Mubarak yang mengguncang Mesir dan dunia Arab. Ia menolak Ikhwanul Muslimin Mesir, yang ia tuduh telah membajak revolusi negara itu.

Pemikiran dan Pandangan yang Kontroversial

Anti-Patriarki dan Anti-Kelas

Pemikiran Nawal El Saadawi tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya bahwa penindasan terhadap perempuan tidak dapat dipisahkan dari penindasan kelas. Baginya, feminisme bukan hanya tentang kesetaraan gender, tetapi juga tentang melawan kapitalisme, imperialisme, dan segala bentuk struktur kekuasaan yang menindas. Ia sering diidentifikasi sebagai seorang Marxis Muslim karena pandangannya yang mengkritik kapitalisme dan sistem kelas.

Ia mengatakan kepada CNN pada tahun 2011: “Perempuan tidak bisa bebas dalam masyarakat kelas atau masyarakat patriarki yang didominasi laki-laki. Itu sebabnya kita harus menghapuskannya, melawan penindasan kelas, penindasan gender, dan penindasan keagamaan. Kita tidak bisa berbicara soal revolusi tanpa perempuan.”

Kritik terhadap Agama dan Institusi Keagamaan

Nawal dikenal sebagai pengkritik keras agama dan institusi keagamaan, terutama yang ia anggap melanggengkan penindasan terhadap perempuan. Ia menolak praktik poligami, ketidaksetaraan hak waris antara laki-laki dan perempuan, dan penggunaan jilbab yang ia pandang sebagai simbol penindasan. Pandangannya ini membuatnya dikutuk oleh Al-Azhar, otoritas Sunni tertinggi di Mesir.

Namun demikian, ia tetap mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Muslim. Banyak pengamat yang menggambarkannya sebagai “Marxis Muslim” atau “feminis Islam,” meskipun label-label ini sering kali tidak cukup untuk menangkap kompleksitas pemikirannya.

Kritik terhadap Feminis Barat dan Imperialisme

Salah satu aspek yang paling menarik dari pemikiran Nawal El Saadawi adalah kritiknya yang tajam terhadap feminis Barat. Ia menolak asumsi bahwa feminisme adalah proyek Barat yang harus diimpor ke dunia Arab. Baginya, perempuan di Global South memiliki pengalaman penindasan yang berbeda—yang tidak hanya bersifat gender, tetapi juga kelas, kolonialisme, dan ras.

Ia juga mengkritik kebijakan para kepala negara imperialis, seperti invasi mantan Presiden AS George W. Bush ke Irak dan Afghanistan. Meskipun ia bersahabat dengan tokoh feminis Amerika Gloria Steinem, ia tidak segan-segan mengkritik pandangan-pandangan yang ia anggap tidak sensitif terhadap konteks dunia Arab.

Warisan Karya Sastra

Selama hidupnya, Nawal El Saadawi telah menulis lebih dari 55 buku, yang mencakup berbagai genre: novel, kumpulan cerita pendek, drama, memoar, dan esai nonfiksi. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di seluruh dunia. Berikut adalah beberapa karyanya yang paling penting:

TahunJudul (Bahasa Arab)Judul (Bahasa Inggris/Indonesia)Keterangan
1958مذكرات طبيبةMemoirs of a Woman DoctorNovel semi-otobiografi tentang perjuangan perempuan di dunia kedokteran
1972المرأة والجنسWomen and SexBuku nonfiksi kontroversial yang menyebabkan pemecatannya
1975امرأة عند نقطة الصفرWoman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol)Karyanya yang paling terkenal secara internasional
1977الوجه العاري للمرأة العربيةThe Hidden Face of Eve (Perempuan dalam Budaya Patriarki)Analisis tentang perempuan dalam masyarakat Arab
1984مذكرات في سجن النساءMemoirs from the Women’s PrisonDitulis di penjara di atas tisu toilet
1993حب في زمن النفطLove in the Time of OilNovel tentang cinta dan kapitalisme

Banyak dari karyanya bersifat semi-otobiografi, yang berisi kritik keras terhadap patriarki. Ia menggunakan pengalaman pribadinya—sebagai korban sunat perempuan, sebagai perempuan di dunia kedokteran yang didominasi laki-laki, sebagai aktivis yang dipenjara—sebagai bahan bakar untuk narasi-narasi yang menggugah.

Warisan Seorang Pejuang yang Tak Pernah Padam

Nawal El Saadawi meninggal dunia pada tanggal 21 Maret 2021 di sebuah rumah sakit di Kairo, setelah lama menderita sakit. Menteri Kebudayaan Mesir Inas Abdel-Dayem menyatakan bahwa tulisan Saadawi telah menciptakan gerakan intelektual yang hebat di Mesir dan di seluruh dunia.

Sepanjang hidupnya, ia pernah bercerai tiga kali dan memiliki dua orang anak. Ia menikah pertama kali dengan sesama mahasiswa kedokteran Ahmed Helmi pada tahun 1955, bercerai dua tahun kemudian; kemudian menikah dengan Rashad Bey pada tahun 1964 dan bercerai pada tahun 2010 setelah 46 tahun berumah tangga.

“Saya bisa menggambarkan hidup saya sebagai kehidupan yang dikhususkan untuk menulis. Terlepas dari semua rintangan, saya terus menulis.” kata El Saadawi, yang tutup usia dalam kedamaian dan meninggalkan seorang putri dan seorang putra.

Dari seorang anak perempuan di desa kecil yang tidak diharapkan kelahirannya, hingga menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam gerakan feminisme global, perjalanan hidup Nawal El Saadawi adalah bukti bahwa satu orang—dengan keberanian untuk mengatakan kebenaran—dapat mengubah dunia. Ia mungkin disebut “kurang ajar dan berbahaya” oleh mereka yang merasa terancam oleh kebenarannya, tetapi bagi jutaan perempuan di seluruh dunia, ia adalah pahlawan yang membuka jalan menuju kebebasan, martabat, dan kesetaraan.

Download Novel Nawal el-Saadawi

Di tengah hiruk-pikuk dunia sastra Arab yang terus berkembang, muncullah seorang penulis muda asal Jeddah yang berhasil mencuri perhatian para pembaca dengan karyanya yang unik dan imajinatif. أحمد عبد الله سعد آل حمدان (Ahmad Abdullah Saad Al Hamdan), yang dikenal luas dengan nama pena أحمد آل حمدان, adalah salah satu figur paling menjanjikan dalam kancah sastra Saudi kontemporer. Ia tidak hanya sekadar penulis, tetapi juga seorang arsitek dunia fiksi yang berhasil membangun alam semesta imajinatifnya sendiri, lengkap dengan sejarah, geografi, dan hukum-hukum yang mengaturnya.

Lahir di era modern namun berhasil menyulap warisan budaya Arab kuno menjadi cerita-cerita yang segar dan relevan, Ahmad Al Hamdan mewakili suara generasi baru penulis Arab yang berani menjelajahi genre yang sebelumnya jarang disentuh, terutama fantasi epik. Dengan latar belakang pendidikan matematika yang logis, ia justru melahirkan karya-karya yang sarat dengan imajinasi dan filosofi mendalam. Biografi ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup, karier, dan warisan sastra dari penulis yang dijuluki sebagai salah satu pelopor fantasi Arab modern ini.

Masa Kecil dan Pendidikan

Ahmad Al Hamdan memulai babak pertama kehidupannya di kota metropolitan pesisir, Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 14 Juni 1992. Dibesarkan di lingkungan yang kaya akan budaya dan perdagangan, masa kecilnya tidak hanya diisi dengan permainan biasa. Dalam sebuah wawancara mendalam dengan harian Okaz, ia mengungkapkan benih kecintaannya pada dunia cerita:

“Lazimnya, sejak kecil, hasrat untuk merangkai cerita dan hikayat telah menjadi obsesi bagiku. Saya ingat, ketika anak-anak seusia saya bermimpi menjadi dokter, insinyur, atau orang kaya, saya justru bermimpi menjadi seorang penulis yang kekayaannya berasal dari banyaknya pembaca yang dengan penuh gairah membaca cerita-ciptaannya.”

Pernyataan ini menggambarkan sosok anak yang berbeda. Ia tidak hanya sekadar membaca, tetapi sudah memiliki visi untuk menciptakan dunia-dunia baru.

Untuk mengasah nalar logisnya, Ahmad menempuh pendidikan tinggi di Universitas Raja Abdulaziz (King Abdulaziz University) di Jeddah. Di universitas ternama ini, ia meraih gelar Sarjana (Bachelor of Arts) dalam bidang Matematika. Kombinasi antara logika matematika dan imajinasi sastra ini kelak menjadi ciri khas dalam bangunan cerita-ceritanya yang kompleks namun tetap terstruktur.

Awal Karier dan Terobosan Pertama

Tahun 2017 menjadi titik balik dalam kehidupan Ahmad Al Hamdan. Di tahun itu, ia dengan berani melompat ke dalam dunia penerbitan dengan merilis novel pertamanya, "مدينة الحب لا يسكنها العقلاء" (Madinat al-Hubb La Yaskunuhu al-Uqala' - Kota Cinta Tak Dihuni Orang Bijak). Keputusan untuk menerbitkan novel ini bukanlah hal yang mudah baginya. Dalam wawancara yang sama, ia menggambarkan perasaannya saat itu:

“Saya seperti orang yang melompat dari tebing dan memikirkan cara untuk selamat saat sedang jatuh. Saya tidak pernah berpikir siapa yang akan membaca atau tidak membaca. Saya memiliki kata-kata di dada saya, dan saya akan tercekik jika tidak menulis dan menerbitkannya... Saya tidak tahu apakah itu kegilaan atau kebijaksanaan, tapi yang saya tahu pasti adalah jika saya terlalu banyak berpikir, mungkin saya akan berbalik ke belakang dan tidak akan pernah melompat.”

Keberanian “melompat” ini membuahkan hasil manis. Novel ini, yang bercerita tentang seseorang yang menulis buku untuk mengajak kekasihnya yang tidak suka membaca kembali kepadanya, langsung menarik perhatian.

Keberhasilan novel pertama mendorongnya untuk melanjutkan kisah tersebut. Ia merilis sekuel berjudul "أنت كل أشيائي الجميلة" (Anta Kullu Ashyai al-Jamilah - Kamu Adalah Segala Hal Indahku) pada tahun 2018, diikuti oleh bagian penutup trilogi, "ردني إليك" (Ruduni Ilayk - Kembalikan Aku Padamu), pada tahun 2020. Trilogi roman ini secara efektif mengukuhkan namanya sebagai novelis muda yang mampu menyentuh hati pembaca dengan gaya bahasa yang sederhana namun kuat.

Puncak Karier: Sang Arsitek Fantasi Modern

Jika trilogi roman memperkenalkan namanya, maka saga fantasi "أبابيل" (Ababil) lah yang mengangkatnya ke level bintang. Ahmad Al Hamdan tidak hanya menulis cerita fantasi; ia menciptakan "ملحمة الطين والنار" (Epik Tanah dan Api), sebuah alam semesta kohesif yang sering dibandingkan dengan dunia-dunia epik Barat.

Dalam profilnya di platform Abjjad, ia digambarkan sebagai:

“...salah satu pendiri utama novel fantasi Arab modern dan pembangunnya di atas fondasi kokoh yang tidak ada sebelumnya. Dia tidak hanya menulis novel; dia membangun sebuah dunia. Dunia yang utuh dengan hukum, geografi, sejarah, dan karakter-karakternya yang turun ke hati pembaca dan tinggal di sana.”

Silsilah Karya "Alam Ababil"

  1. أبابيل (Ababil - 2019): Bagian pertama yang memperkenalkan konflik utama dan karakter kunci. Novel ini berkisah tentang cinta terlarang antara Jumana, seorang putri jin, dan Bahr, seorang manusia biasa, yang melahirkan seorang anak dengan kekuatan misterius.
  2. الجساسة (Al-Jasusah - 2020): Melanjutkan petualangan dan memperluas cakrawala konflik di alam gaib.
  3. جومانا (Jumana - 2022): Berfungsi sebagai prekuel yang mendalam, mengisahkan peristiwa sebelum Ababil dan latar belakang karakter eponimnya, Jumana.
  4. السجيل (Al-Sajeel): Bagian keempat yang terus mengembangkan mitologi dunia tersebut.
  5. الزمهرير (Al-Zamharir): Bagian terbaru dari saga utama yang terus dinanti-nantikan.

Kesuksesan Ababil tidak hanya terbatas di dunia cetak. Antusiasme pembaca begitu besar sehingga menginspirasi pembuatan buku audio dan bahkan aplikasi ponsel khusus yang mengumpulkan seluruh karyanya, menandakan besarnya basis penggemar yang dikenal sebagai “Alam Ababil”.

Eksplorasi Genre Lain: Dari Fiksi Ilmiah hingga Epik Sejarah

Tidak ingin terpaku pada satu genre, Ahmad Al Hamdan terus menunjukkan fleksibilitasnya sebagai penulis sejati. Ia menjelajahi genre fiksi ilmiah melalui serial "آرسس" (Arsas). Serial ini, yang terdiri dari dua bagian (2023 & 2025), mengangkat tema yang lebih kontemporer dan misterius. Plotnya berpusat pada penemuan objek asing misterius di langit Saudi dan upaya sebuah badan penelitian rahasia untuk menyelidikinya, memadukan elemen horor psikologis, misteri, dan petualangan luar angkasa.

Pada tahun 2025, ia kembali mengejutkan para pembacanya dengan merilis novel "آزر: ابن ذئبة الوادي" (Azar: Ibn Dhi'bati al-Wadi - Azar, Putra Serigala Lembah). Berbeda dengan karya-karyanya sebelumnya yang cenderung urban atau modern, Azar membawa pembaca jauh ke belakang, ke zaman Jahiliyah (pra-Islam) Arab.

Novel ini mengeksplorasi tema identitas dan kelangsungan hidup. Cerita mengikuti perjalanan seorang anak laki-laki bernama Azar yang tersesat di padang belantara dan diadopsi serta dibesarkan oleh serigala betina yang pemberani. Kehadiran Azar disambut luar biasa oleh pasar. Dilaporkan bahwa novel ini berhasil menduduki posisi pertama dalam daftar buku terlaris di toko buku ternama Jarir Bookstore selama beberapa bulan berturut-turut setelah perilisannya.

Gaya Penulisan, Filosofi, dan Hubungan dengan Pembaca

Apa yang membuat Ahmad Al Hamdan begitu istimewa di mata pembacanya? Ada beberapa pilar utama yang menopang popularitasnya:

  1. Membangun "Dunia" (World-Building): Ini adalah kekuatan terbesarnya. Ia tidak sekadar menulis plot, tetapi menciptakan semesta lengkap dengan mitologi, aturan sihir, geografi, dan sejarah yang kaya. Pembaca merasa diajak untuk "tinggal" di dunia itu, bukan sekadar membacanya.
  2. Akulturasi Warisan Lokal: Ia dengan cerdik menyulam elemen-elemen dari mitologi Arab pra-Islam dan tradisi Islam tentang alam gaib (jin, setan) ke dalam narasinya yang modern. Hal ini membuat karyanya terasa otentik dan dekat dengan akar budaya pembaca Arab, tidak seperti sekadar meniru fantasi Barat.
  3. Kredo "Burung yang Bermigrasi": Ahmad percaya bahwa seorang novelis sejati tidak boleh terpaku pada satu tema. Dalam wawancaranya, ia berkata, “Saya mencoba untuk berbeda setiap kali saya muncul. Saya tidak suka pengulangan dan tinggal di satu zona... seorang novelis pada dasarnya adalah burung yang bermigrasi yang tidak menyukai gagasan untuk tinggal di satu zona.”
  4. Hubungan Istimewa dengan Pembaca Perempuan: Meskipun ia memiliki basis pembaca pria yang signifikan, ia mengakui bahwa sebagian besar penggemarnya adalah wanita. Ia berteori bahwa ini mungkin karena wanita cenderung lebih terhubung dengan dimensi emosional dan fantasi, serta secara aktif mengembangkan diri mereka melalui membaca.
  5. Sikap terhadap Kritik dan Media: Ahmad adalah sosok yang unik. Di satu sisi, ia sangat membutuhkan media untuk menjembatani karyanya dengan publik. Di sisi lain, ia bersikap independen terhadap para kritikus sastra, menyatakan bahwa satu-satunya kritikus yang ia dengarkan adalah pembacanya sendiri dan ia tidak mencari mereka yang mengaku sebagai kritikus.

Daftar Karya Lengkap

Berikut adalah kronologi lengkap karya-karya Ahmad Al Hamdan yang telah diterbitkan hingga tahun 2025:

TahunJudul (Bahasa Indonesia)Genre / Serial
2017مدينة الحب لا يسكنها العقلاء (Kota Cinta Tak Dihuni Orang Bijak)Roman (Trilogi #1)
2018أنت كل أشيائي الجميلة (Kamu Adalah Segala Hal Indahku)Roman (Trilogi #2)
2020ردني إليك (Kembalikan Aku Padamu)Roman (Trilogi #3)
2019أبابيل (Ababil)Fantasi Epik (Ababil #1)
2020الجساسة (Al-Jasusah)Fantasi Epik (Ababil #2)
2022جومانا (Jumana)Fantasi Epik (Prequel Ababil #3)
2023آرسس 1 (Arsas 1)Fiksi Ilmiah / Fantasi Gelap (Arsas #1)
2025آرسس 2 (Arsas 2)Fiksi Ilmiah / Fantasi Gelap (Arsas #2)
2025آزر: ابن ذئبة الوادي (Azar: Putra Serigala Lembah)Fantasi Sejarah (Standalone)

Download Novel Ahmad Al Hamdan