Nawal el-Saadawi

Simone de Beauvoir-nya Dunia Arab

“Mereka bilang, ‘Kamu perempuan kurang ajar dan berbahaya.’ Saya mengatakan kebenaran. Dan kebenaran itu kurang ajar dan berbahaya.”

Demikian tulis Nawal El Saadawi dalam salah satu pernyataannya yang paling dikenang, sebagaimana dilaporkan media Mesir. Kata-kata ini merangkum seluruh perjalanan hidup seorang perempuan yang mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan di tengah masyarakat yang menolak untuk mendengarnya. Seorang dokter, psikiater, novelis, dan aktivis feminis yang selama puluhan tahun membagi kisah serta perspektifnya melalui novel, esai, otobiografi, dan gelar wicara yang dihadiri banyak orang.

Dikenal luas sebagai “Simone de Beauvoir dari Dunia Arab” dan “perempuan paling radikal di Mesir,” Nawal El Saadawi lahir pada 27 Oktober 1931 di desa Kafr Tahla, Mesir, dan meninggal dunia pada 21 Maret 2021 di Kairo pada usia 89 tahun. Kejujurannya yang brutal dan dedikasinya yang tak tergoyahkan untuk memperbaiki hak-hak politik dan seksual perempuan telah menginspirasi berbagai generasi di seluruh dunia.

Kelahiran yang Tidak Diharapkan

Nawal El Saadawi dilahirkan sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara. Keluarganya tinggal di sebuah desa kecil bernama Kafr Tahla, terletak di tepi Sungai Nil, sebuah tempat yang ia gambarkan memiliki banyak ruang untuk berjalan dan berpikir secara kreatif di samping pepohonan hijau yang indah. Ayahnya, Sayed, adalah seorang pejabat pemerintah di Kementerian Pendidikan yang berkampanye melawan pendudukan Inggris di Mesir dan Sudan, yang menyebabkan ia diasingkan ke kota kecil di Delta Nil dan tidak dipromosikan selama sepuluh tahun. Ibunya, Zainab, berasal dari latar belakang keluarga kaya.

Sejak usia dini, Nawal menyadari bahwa anak perempuan kurang dihargai dibandingkan anak laki-laki. Suatu ketika, neneknya berkata kepadanya, “Satu anak laki-laki berharga setidaknya 15 perempuan… Perempuan adalah hama.” Nawal marah mendengar pernyataan itu. Dia melihat ada yang salah dan dia bersuara. “Nawal tidak bisa memalingkan dirinya,” kata seorang teman dan penerjemahnya, Omnia Amin.

Upaya Pernikahan Dini dan Perlawanan Pertama

Ketika Nawal berusia sepuluh tahun, keluarganya berusaha menikahkannya. Namun, dengan keberanian yang luar biasa, ia menolak mentah-mentah lamaran tersebut. Sang ibu, yang memiliki pengaruh besar dalam hidupnya, membelanya. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik awal yang membentuk karakter Nawal sebagai seorang pejuang yang tidak akan pernah tunduk pada tekanan budaya atau tradisi yang merugikan perempuan.

Luka yang Tak Pernah Sembuh: Pengalaman Sunat Perempuan

Pada usia enam tahun, Nawal mengalami peristiwa yang akan membentuk seluruh perjuangannya di masa depan: ia menjadi korban sunat perempuan atau Female Genital Mutilation (FGM). Dalam bukunya The Hidden Face of Eve (diterbitkan di Indonesia dengan judul Perempuan dalam Budaya Patriarki), ia menceritakan pengalamannya menjalani prosedur yang menyakitkan itu di lantai kamar mandi, sementara ibunya berdiri di sampingnya.

Dalam otobiografinya, ia menulis bahwa luka mendalam yang tertinggal di dalam tubuhnya tidak pernah sembuh. Pengalaman traumatis ini menjadi fondasi perlawanannya sepanjang hayat terhadap praktik FGM, yang ia pandang sebagai alat untuk menindas dan mengontrol tubuh perempuan.

Dukungan Ayah yang Progresif

Meskipun menghadapi berbagai ketidakadilan sebagai seorang anak perempuan, Nawal memiliki keberuntungan besar: ayahnya adalah seorang yang progresif dan sangat mendukung pendidikannya. Sang ayah mendorongnya untuk belajar membaca, mempelajari bahasa Arab, dan—yang terpenting—berpikir dengan nalarnya sendiri. Ia mengajarkan Nawal untuk membaca Al-Qur’an tetapi tetap menggunakan akal sehatnya. Pada usia 13 tahun, Nawal sudah menulis novel pertamanya, menandai awal dari perjalanan panjangnya sebagai seorang penulis.

Pendidikan dan Karier Awal sebagai Dokter

Pada tahun 1951, Nawal El Saadawi memasuki Fakultas Kedokteran dan Bedah Universitas Kairo—sebuah pencapaian luar biasa di saat sedikit perempuan yang melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Ia lulus dengan gelar M.D. pada tahun 1955. Setelah lulus, ia bekerja sebagai dokter di kota kelahirannya dan di Universitas Kairo, di samping mengajar dan melakukan praktik di Rumah Sakit Qasr Ainy, Kairo, hingga tahun 1966.

Pada tahun 1966, ia meraih gelar Magister Kesehatan Masyarakat (M.P.H.) dari Universitas Columbia di New York, sebuah institusi bergengsi yang semakin memperluas wawasannya tentang isu-isu kesehatan global. Pada periode 1972–1974, ia melakukan penelitian psikiatri di Universitas Ain Shams di Kairo.

Kariernya di pemerintahan Mesir terus menanjak. Pada tahun 1966, ia diangkat menjadi Direktur Jenderal Departemen Pendidikan Kesehatan di Kementerian Kesehatan Masyarakat Mesir. Pada tahun 1968, ia mendirikan majalah Health, yang menjadi wadah bagi edukasi kesehatan masyarakat.

Saat bekerja sebagai dokter, terutama di daerah pedesaan, Nawal mengamati dan mencatat berbagai masalah fisik dan psikologis yang dialami oleh para pasien perempuannya. Ia menghubungkan penderitaan mereka dengan praktik budaya patriarki yang mengakar dalam masyarakat. Banyak dari pengamatan ini menjadi fondasi bagi karya nonfiksi pertamanya yang kontroversial.

Kemunculan sebagai Penulis Feminis

Pada tahun 1972, Nawal El Saadawi menerbitkan buku nonfiksi berjudul Women and Sex (Al-Marʾah wa al-jins). Buku ini berisikan narasi perjuangan melawan eksploitasi tubuh perempuan, termasuk penentangannya terhadap sunat perempuan dan berbagai bentuk penindasan seksual lainnya. Ia dengan tegas menyatakan bahwa khitan terhadap perempuan merupakan tradisi turun-temurun, bukan berasal dari ajaran Islam.

Buku tersebut mengguncang otoritas politik dan agama di Mesir. Kelompok agamis menggambarkan El-Saadawi sebagai “kekuatan penghancur” dalam wacana sosial dan budaya Mesir modern. Akibatnya, pemerintah memecatnya dari jabatannya sebagai Direktur Kesehatan Publik di Kementerian Kesehatan Mesir. Setahun berikutnya, majalah Health yang ia dirikan juga dibredel. Buku Women and Sex dilarang beredar di Mesir selama hampir dua dekade.

Memoar Seorang Dokter Perempuan: Kisah Perjuangan di Dunia yang Didominasi Laki-laki

Pada tahun 1958, ia menerbitkan novel klasik berjudul Memoirs of a Woman Doctor. Novel ini mengisahkan seorang gadis Mesir yang bercita-cita menjadi dokter, namun harus menghadapi rintangan besar karena kehidupan sosial di Mesir menyulitkan seorang perempuan untuk berkarier. Tokoh utama dalam novel tersebut menjadi satu-satunya mahasiswa kedokteran perempuan di kampusnya, dan perjuangannya melawan dominasi laki-laki di sekolah kedokteran menjadi cerminan dari perjuangan nyata Nawal sendiri.

Perempuan di Titik Nol: Mahakarya yang Menggetarkan Dunia

Pada tahun 1975, Nawal El Saadawi menerbitkan novelnya yang paling terkenal di dunia, Woman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol). Novel ini diangkat dari kisah nyata seorang perempuan bernama Firdaus yang ia temui saat bekerja sebagai dokter di penjara perempuan. Firdaus, seorang pelacur yang dihukum mati karena membunuh germonya, menjadi simbol dari semua perempuan yang tertindas oleh sistem patriarki yang kejam.

Melalui sudut pandang Firdaus, Nawal menggambarkan dengan sangat gamblang kebobrokan sistem pemerintahan, ketimpangan sosial, dan kekerasan struktural yang dialami oleh perempuan di Mesir dan dunia Arab. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di seluruh dunia dan menjadi salah satu karya sastra feminis paling berpengaruh sepanjang masa.

Aktivisme, Organisasi, dan Perjuangan Tanpa Henti

Mendirikan Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab

Pada tahun 1982, Nawal El Saadawi mendirikan Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab (Arab Women’s Solidarity Association/AWSA) dan menjabat sebagai presidennya. Organisasi ini menjadi wadah bagi para perempuan Arab untuk bersatu melawan penindasan patriarki dan memperjuangkan hak-hak mereka. Ia juga menjadi salah satu pendiri Asosiasi Arab untuk Hak Asasi Manusia, yang memperluas perjuangannya ke ranah hak asasi manusia secara lebih luas.

Pada tahun 1981, ia mendirikan majalah feminis Al-Moawgaha yang berarti “Konfrontasi,” sebuah nama yang secara tegas mencerminkan sikapnya yang tidak pernah kompromi terhadap ketidakadilan. Namun, pada tahun 1991, pemerintah Mesir di bawah Hosni Mubarak menutup paksa asosiasi tersebut dan mengalihkan dananya ke Asosiasi Perempuan Islam.

Dipenjara oleh Sadat: Menulis di Atas Tisu Toilet dengan Pensil Alis

Pada bulan September 1981, di masa pemerintahan Presiden Anwar Sadat, Nawal El Saadawi ditangkap dengan tuduhan sebagai pembangkang politik. Ia dipenjara selama tiga bulan. Namun, penjara tidak menghentikan semangatnya untuk menulis.

Selama di balik jeruji besi, ia menulis memoarnya di atas gulungan kertas tisu toilet, menggunakan pensil alis yang diselundupkan kepadanya oleh seorang pekerja seks yang juga dipenjara—sebuah adegan yang begitu simbolis tentang bagaimana seorang pejuang kebenaran dapat berkarya dalam kondisi paling sulit sekalipun. Hasilnya adalah buku Memoirs from the Women’s Prison (Memoar dari Penjara Perempuan), yang menjadi saksi bisu atas ketabahannya menghadapi tirani. Ia dibebaskan sebulan setelah Presiden Sadat tewas terbunuh pada Oktober 1981.

Ancaman Pembunuhan dan Pengasingan ke Amerika Serikat

Setelah dibebaskan, perjuangan Nawal tidak menjadi lebih mudah. Ia terus menerima ancaman pembunuhan dari para pengkhotbah Islam garis keras. Namanya masuk dalam daftar orang-orang yang diincar nyawanya, bersama dengan penulis peraih Nobel Naguib Mahfouz yang selamat dari upaya pembunuhan pada tahun 1994.

Pada tahun 1993, setelah ancaman kematian yang terus-menerus, Nawal memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat. Ia bekerja sebagai penulis di departemen bahasa Asia dan Afrika di Universitas Duke, North Carolina, selama kurang lebih tiga tahun. Setelah itu, ia kembali ke Mesir dan terus melanjutkan perjuangannya.

Mencalonkan Diri sebagai Presiden Mesir

Pada tahun 2005, Nawal El Saadawi menunjukkan keberaniannya yang luar biasa dengan mencalonkan diri sebagai presiden Mesir. Namun, ia membatalkan pencalonannya setelah menuduh pasukan keamanan tidak mengizinkannya mengadakan demonstrasi atau kampanye politik. Meskipun tidak berhasil, langkah ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga berusaha untuk secara langsung terlibat dalam proses politik.

Pada tahun 2011, di usianya yang ke-80 tahun, ia masih aktif mengambil peran dalam pemberontakan massal melawan korupsi rezim Hosni Mubarak yang mengguncang Mesir dan dunia Arab. Ia menolak Ikhwanul Muslimin Mesir, yang ia tuduh telah membajak revolusi negara itu.

Pemikiran dan Pandangan yang Kontroversial

Anti-Patriarki dan Anti-Kelas

Pemikiran Nawal El Saadawi tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya bahwa penindasan terhadap perempuan tidak dapat dipisahkan dari penindasan kelas. Baginya, feminisme bukan hanya tentang kesetaraan gender, tetapi juga tentang melawan kapitalisme, imperialisme, dan segala bentuk struktur kekuasaan yang menindas. Ia sering diidentifikasi sebagai seorang Marxis Muslim karena pandangannya yang mengkritik kapitalisme dan sistem kelas.

Ia mengatakan kepada CNN pada tahun 2011: “Perempuan tidak bisa bebas dalam masyarakat kelas atau masyarakat patriarki yang didominasi laki-laki. Itu sebabnya kita harus menghapuskannya, melawan penindasan kelas, penindasan gender, dan penindasan keagamaan. Kita tidak bisa berbicara soal revolusi tanpa perempuan.”

Kritik terhadap Agama dan Institusi Keagamaan

Nawal dikenal sebagai pengkritik keras agama dan institusi keagamaan, terutama yang ia anggap melanggengkan penindasan terhadap perempuan. Ia menolak praktik poligami, ketidaksetaraan hak waris antara laki-laki dan perempuan, dan penggunaan jilbab yang ia pandang sebagai simbol penindasan. Pandangannya ini membuatnya dikutuk oleh Al-Azhar, otoritas Sunni tertinggi di Mesir.

Namun demikian, ia tetap mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Muslim. Banyak pengamat yang menggambarkannya sebagai “Marxis Muslim” atau “feminis Islam,” meskipun label-label ini sering kali tidak cukup untuk menangkap kompleksitas pemikirannya.

Kritik terhadap Feminis Barat dan Imperialisme

Salah satu aspek yang paling menarik dari pemikiran Nawal El Saadawi adalah kritiknya yang tajam terhadap feminis Barat. Ia menolak asumsi bahwa feminisme adalah proyek Barat yang harus diimpor ke dunia Arab. Baginya, perempuan di Global South memiliki pengalaman penindasan yang berbeda—yang tidak hanya bersifat gender, tetapi juga kelas, kolonialisme, dan ras.

Ia juga mengkritik kebijakan para kepala negara imperialis, seperti invasi mantan Presiden AS George W. Bush ke Irak dan Afghanistan. Meskipun ia bersahabat dengan tokoh feminis Amerika Gloria Steinem, ia tidak segan-segan mengkritik pandangan-pandangan yang ia anggap tidak sensitif terhadap konteks dunia Arab.

Warisan Karya Sastra

Selama hidupnya, Nawal El Saadawi telah menulis lebih dari 55 buku, yang mencakup berbagai genre: novel, kumpulan cerita pendek, drama, memoar, dan esai nonfiksi. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di seluruh dunia. Berikut adalah beberapa karyanya yang paling penting:

TahunJudul (Bahasa Arab)Judul (Bahasa Inggris/Indonesia)Keterangan
1958مذكرات طبيبةMemoirs of a Woman DoctorNovel semi-otobiografi tentang perjuangan perempuan di dunia kedokteran
1972المرأة والجنسWomen and SexBuku nonfiksi kontroversial yang menyebabkan pemecatannya
1975امرأة عند نقطة الصفرWoman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol)Karyanya yang paling terkenal secara internasional
1977الوجه العاري للمرأة العربيةThe Hidden Face of Eve (Perempuan dalam Budaya Patriarki)Analisis tentang perempuan dalam masyarakat Arab
1984مذكرات في سجن النساءMemoirs from the Women’s PrisonDitulis di penjara di atas tisu toilet
1993حب في زمن النفطLove in the Time of OilNovel tentang cinta dan kapitalisme

Banyak dari karyanya bersifat semi-otobiografi, yang berisi kritik keras terhadap patriarki. Ia menggunakan pengalaman pribadinya—sebagai korban sunat perempuan, sebagai perempuan di dunia kedokteran yang didominasi laki-laki, sebagai aktivis yang dipenjara—sebagai bahan bakar untuk narasi-narasi yang menggugah.

Warisan Seorang Pejuang yang Tak Pernah Padam

Nawal El Saadawi meninggal dunia pada tanggal 21 Maret 2021 di sebuah rumah sakit di Kairo, setelah lama menderita sakit. Menteri Kebudayaan Mesir Inas Abdel-Dayem menyatakan bahwa tulisan Saadawi telah menciptakan gerakan intelektual yang hebat di Mesir dan di seluruh dunia.

Sepanjang hidupnya, ia pernah bercerai tiga kali dan memiliki dua orang anak. Ia menikah pertama kali dengan sesama mahasiswa kedokteran Ahmed Helmi pada tahun 1955, bercerai dua tahun kemudian; kemudian menikah dengan Rashad Bey pada tahun 1964 dan bercerai pada tahun 2010 setelah 46 tahun berumah tangga.

“Saya bisa menggambarkan hidup saya sebagai kehidupan yang dikhususkan untuk menulis. Terlepas dari semua rintangan, saya terus menulis.” kata El Saadawi, yang tutup usia dalam kedamaian dan meninggalkan seorang putri dan seorang putra.

Dari seorang anak perempuan di desa kecil yang tidak diharapkan kelahirannya, hingga menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam gerakan feminisme global, perjalanan hidup Nawal El Saadawi adalah bukti bahwa satu orang—dengan keberanian untuk mengatakan kebenaran—dapat mengubah dunia. Ia mungkin disebut “kurang ajar dan berbahaya” oleh mereka yang merasa terancam oleh kebenarannya, tetapi bagi jutaan perempuan di seluruh dunia, ia adalah pahlawan yang membuka jalan menuju kebebasan, martabat, dan kesetaraan.

Download Novel Nawal el-Saadawi